Nyladran Nglampet Ritual Sakral Nguri-Nguri Alam

Desa Gunungronggo terletak di Kecamatan Tajinan dengan jarak sekitar 15 km arah timur Malang. Wilayah Desa Gunungronggo berada di lereng Gunung Buring, secara topografi desa ini didominasi dengan perbukitan dengan lereng yang curam. Curah hujan di wilayah tersebut relatif tinggi sehingga memiliki potensi sumber air yang cukup besar  yaitu Sumber Jenon. Sumber Jenon memiliki debit air sekitar 300 liter/detik yang diyakini tidak pernah berkurang ataupun bertambah, ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari  masyarakat desa yang terbagi menjadi 4 dusun yaitu Dusun Argomulyo I, Dusun Argomulyo II, Dusun Argomulyo III, dan Dusun Argomulyo IV. Dengan jumlah penduduk 3.282 jiwa serta dapat memenuhi kebutuhan air yang diperlukan oleh masyarakat  bekerja sebagai petani serta buruh tani.

Masyarakat setempat khususnya masyarakat yang berprofesi sebagai petani memercayai bahwa Sumber Jenon bukan sekadar sumber mata air yang dijadikan tempat wisata namun suatu tempat yang memiliki nilai sejarah yang patut dihormati keberadaanya dan dijaga kelestariannya. Masyarakat. Desa Gunungronggo mempercayai dan menghormati sejarah yang melatarbelakangi terciptanya Sumber Jenon kemudian menyakralkannya. Aktualisasinya  dikemas dalam sebuah  ritual yaitu ritual Nyladran Nglampet.

Ritual Nyladran menjadi salah satu cara adaptasi masyarakat Desa Gunungronggo kepada non-manusia (alam dan danyang-danyang) yang mereka percayai selama ini telah memberikan berkah dan kelancaran kegiatan mereka sehari-hari. Bentuk rasa syukur tersebut dituangkan kedalam ritual Nyladran yang di dalamnya terdapat item- item uborampe yang harus dipenuhi. Di dalam uborampe tersebut memiliki makna- makna yang intinya pengharapan masyarakat Desa Gunungronggo. Ritual Nyladran Nglampet juga digunakan sebagai wadah bertemunya para petani untuk menentukan awal musim tanam agar petani dapat memulai menanam secara serentak. Selain itu juga  sebagai wadah untuk merencanakan upaya pelestarian sumber mata air maupun kegiatan konservasi.

Ritual Nyladran Nglampetmerupakan sebuah ritual adat yang dilakukan rutin setiap tahunnya oleh masyarakat di Desa Gunungronggo. Ritual tersebutdiikuti oleh seluruh masyarakat Desa Gunungronggo entah itu penduduk asli maupun pendatang. Begitu juga  orang yang memiliki lahan dan turut ikut menggunakan air dari Sumber Jenon pun ikut ritual ini. Ritual ini telah diadakan sejak sebelum zaman kemerdekaan dan masih dipertahankan hingga saat ini karena ritual ini sudah tertanam sebagai sebuah kepercayaan bagi masyarakat setempat.

Salah satu prosesi Nyladran yaitu larung bibit dan benih
Tabur bunga di sumber mata air Jenon oleh Kepala Desa diiringi salawat

Petani setempat percaya bahwa dengan melakukan ritual ini hidup mereka akan menjadi lebih aman dan terhindar dari segala macam gangguan roh halus serta bencana yang akan menimpa desa. Sebagai masyarakat agraris, masyarakat Desa Gunungronggo  percaya bahwa ritual Nyladranini dapat membantu hasil panen mereka menjadi lebih baik. Apabila ritual Nyladranini tidak dilaksanakan maka akan terjadi bencana di kemudian hari. Bencana tersebut antara lain dalam bentuk kerusakan ekologi, bencana alam, kekeringan dan serangan hama yang dapat menyebabkan gagal panen yang terjadi di Desa Gunungronggo.

Selain  sebagai ungkapan  rasa syukur, upacara Nyladran ini juga ditujukan untuk menolak bala dan melancarkan proses kegiatan bertani  yang akan dilakukan pada musim berikutnya. Bentuk dari acara ini adalah kesediaan  masyarakat untuk datang ke Sumber Jenon dengan membawa berkat/asahan berupa nasi, lauk, dan buah.

Masyarakat berbondong-bondong membawa makanan ke sumber Jenon

Nyladran Nglampet merupakan awal dimulainya kegiatan tanam  serentak yaitu, baik itu proses penyemaian, pembibitan, penanaman, pemupukan dan penanaman tanaman tahunan,buah-buahan maupun tanaman penghijauan lainnya. Gerakan penanaman di sekitar sumber mata air juga merupakan salah satu rangkaian  ritual ini. Peran Kelompok Tani Hutan dalam ritual ini  sangatlah penting, mengingat topografi desa yang tinggi maka perlu adanya   upaya konservasi dalam rangka melestarikan sumber mata airnya.

Dalam pelaksanaan ritual tahunan ini, terdapat susunan  kepanitiaan yang telah ditetapkan oleh Kepala Desa. Ketua Panitianya adalah Ketua Kelompok Tani Hutan Wono Makmur. Pemilihan Ketua KTH Wono Makmur sebagai  Ketua pelaksana bukanlah tanpa alas an, hal tersebut karena KTH Wono Makmur telah aktif dalam kegiatan  konservasi pelestarian sumber mata air, kegiatan penanaman secara swadaya dan edukasi kepada siswa SD tentang lingkungan.

Pembuatan lubang resapan biopori secara swadaya
Antusiasme dalam gerakan penanaman

Ritual Nyladran Nglampetjuga diisi dengan diskusi bersama beberapa pihak baik dari pemerintahan maupun swasta  untuk menyusun rencana kegiatan KTH,POKTAN dan GAPOKTAN pada musim tanam tahun ini. Kegiatan ini penting karena sebagai salah satu identifikasi potensi dan masalah  dalam penyusunan Programa Penyuluhan Kehutanan. Kegiatan ini ditutup dengan siaran radio yang diprakarsai oleh  M.Fajar, SP  Penyuluh Kehutanan Ahli Madya dan dipandu oleh Wiwin Yuliari, SP Penyuluh Kehutanan Ahli Muda CDK Wilayah Malang dengan melibatkan beberapa pihak sebagai narasumber.

Rembug tani dengan berbagai pihak, dilanjutkan siaran radio

Ritual Nyladran sebagai kekayaan budaya lokal perlu dilestarikan. Tak hanya sebagai sebuah ritual adat yang dilakukan rutin setiap tahunnya oleh masyarakat di Desa Gunungronggo, tetapi juga sebagai wadah rembug tani untuk merencanakan kegiatan konservasi demi kelestarian sumber mata air dan kelestarian hutan di sekitar Desa Gunungronggo .

Penulis : Wiwin Yuliari,SP

Penyuluh Kehutanan Ahli Muda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *